cerita ibu kanjeng ratu kidul

Ibu Kanjeng Ratu Kidul juga memiliki anak laki-laki bernama Raden Rangga, hasil perkawinannya dengan Jaka Tingkir (Sultan Adiwijaya). Raden Rangga ini memiliki kesaktian yang lebih tinggi dari pada ibunya, namun masih tetap jauh bila dibanding dengan kesaktian ayahnya. Meskipun juga seperti kakaknya, bandel serta sukai cobai orang yang sok sakti, namun taat pada orang tuanya. Raden Rangga seringkali ada di daratan, di situs-situs Majapahit serta di Candi Dieng.

Saat tengah melancong, Ibu Kanjeng Ratu Kidul kerap memakai kendaraan kebesarannya berbentuk kereta kencana yang ditarik oleh 12 ekor kuda. Anaknya Nyi Rara Kidul seringkali tunjukkan kebesarannya dengan berdiri menunggangi gulungan ombak laut yang besar. Sedang Raden Rangga mempunyai tunggangan gajah sama dengan ayahnya.

Tak seperti yang banyak jadi narasi di orang-orang, mitos serta legenda, bahwa Ibu Kanjeng Ratu Kidul memiliki jalinan dekat dengan raja-raja keraton Yogya, atau bahkan juga disebutkan bertemumikan raja-raja Yogya. Yang sesungguhnya berlangsung yaitu Ibu Kanjeng Ratu Kidul sekalipun belum pernah bersua segera dengan raja-raja Yogya, termasuk juga dengan Panembahan Senopati. Namun beliau menghormati keraton Yogya, lantaran ada usaha dari pihak keraton yang lakukan penghormatan kepadanya lewat beberapa abdi dalam serta beberapa spiritualisnya.

Sesungguhnya ada segitiga kekuasaan gaib yang melingkupi Yogyakarta serta sekitarnya, yakni kerajaan Ibu Kanjeng Ratu Kidul di selatan, serta di utara Yogya yaitu Eyang Sapujagat juga sebagai penguasa gunung Merapi serta Eyang Krama di gunung Merbabu. Namun sampai kini cuma gunung Merapi saja yang disadari, sedang gunung Merbabu tak disadari, hingga kehidupan spiritual serta supranatural yang berkenaan dengan keraton Yogyakarta kerapkali jadi pincang serta terganggu. Walau sebenarnya segitiga kekuasaan gaib tersebut yang sampai kini mengangkat pamor keraton Yogya dari dahulu hingga saat ini, hingga meskipun raja-rajanya lemah karisma wibawanya, namun terus dihormati oleh rakyatnya, serta hingga saat ini keraton Yogya juga dihormati oleh pemerintah Indonesia.

Beberapa penguasa segitiga kekuasaan gaib itu sama-sama mengetahui serta menjalin pertemanan satu dengan yang lain, namun Eyang Krama dari gunung Merbabu saat ini telah tak akan ada di tempatnya awal mulanya, telah geser menetap ditempat lain, yang ketiadaan kemunculannya itu makin lama bakal makin memperlihatkan aslinya karisma keraton Yogya yang telah memudar, sesuai sama aslinya kondisinya, sama dengan keraton Solo.

Ibu Kanjeng Ratu Kidul juga memiliki jalinan dekat dengan beberapa dewa. Hubungan yaitu dalam soal wahyu-wahyu dewa. Beliau banyak terima keinginan dari beberapa orang spesifik (lewat beberapa spiritualis serta kuncen) yang mau tercukupi hasratnya jadi sisi dalam kepemimpinan pemerintahan. Ibu Kanjeng Ratu Kidul memintakan wahyu buat mereka pada beberapa dewa, agar dengan wahyu itu hasrat mereka terwujud.

Ibu Kanjeng Ratu Kidul juga sudah tahu perihal sosok Sang Satria Piningit yang bakal jadi Ratu Adil di Tanah Jawa, namun beliau tak berani mengungkapkannya. Beliau ‘miris’ dengan kegaiban orang itu. Beliau sangatlah waspada serta melindungi jarak, jangan sempat bikin kekeliruan, lantaran bila itu berlangsung, tidak cuma dianya, bahkan juga suaminya atau beberapa dewa sekalipun, akan tidak dapat menolongnya dari hukuman. Sekalipun Ibu Kanjeng Ratu Kidul bukanlah bawahannya, namun beliau ada dibawah kekuasaan orang itu.

Dalam narasi mistis di orang-orang kerap ada kesimpang-siuran narasi yang menyamai Ibu Ratu Kidul dengan Nyi Blorong.

Nyi Blorong yaitu asli bangsa jin. Wujudnya seperti manusia wanita namun berbadan ular. Asal-usul aslinya yaitu dari suatu gunung di Jawa Barat. Dahulu ia pernah datang bertarung melawan Ibu Ratu Kidul untuk memperebutkan kekuasaan di pantai selatan jawa serta lokasi jateng serta jawa timur. Namun dia kalah. Atas seizin Ibu Ratu Kidul, Nyi Blorong bertempat tinggal serta berkekuasaan di Pantai Karang Bolong serta sekitarnya (Kebumen-Cilacap, Jawa Tengah).

Nyi Blorong ini berwatak jahat. Untuk mencari pengikut, dia memberi kesaktian serta layanan pesugihan pada manusia yang memintanya, yang setelah orang itu wafat dunia atau tak dapat penuhi kesepakatan bakal jadikan tumbalnya atau jadikan budaknya.

Namun lantaran ketidaktahuan orang lalu berlangsung kesalahan yang kaprah yang Nyi Blorong ini disamakan orang juga sebagai Ibu Ratu Kidul serta pesugihan Nyi Blorong ini dapat disebutkan juga sebagai pesugihan Ibu Ratu Kidul.

Ada pula beberapa orang yang mengatasnamakan Ibu Kanjeng Ratu Kidul dalam keilmuannya seakan-akan mereka kerap bersua dengan ibu Ratu Kidul atau keilmuannya ada hubungan dengan beliau. Walau sebenarnya mereka tak mengetahui serta tak pernah bersua dengan Ibu Ratu Kidul. Ibu Ratu Kidul juga tak mengetahui serta tak pernah menjumpai mereka. Jadi dalam hal semacam ini mereka cuma menunggangi nama Ibu Ratu Kidul saja untuk kebutuhan mereka.

Di segi lain, ada pula spiritualis yang bertopeng memberi layanan kebatinan kerohanian untuk ketenangan hidup. Sebagiannya merekrut anggota serta mengadakan ritual di pantai selatan seakan-akan mereka mengetahui Ibu Ratu Kidul. Walau sebenarnya mereka tak mengetahui serta tak pernah bersua dengan Ibu Ratu Kidul. Ibu Ratu Kidul juga tak mengetahui serta tak pernah menjumpai mereka. Jadi dalam hal semacam ini mereka cuma menunggangi nama Ibu Ratu Kidul saja untuk kebutuhan mereka. Walau sebenarnya laris ritual, doa-doa serta ilmu-ilmu yang mereka sampaikan pada beberapa anggotanya berlatar-belakang-kan agama, diambilkan dari kitab suci agama, untuk apa mereka meminta restu serta barokah pada Ibu Ratu Kidul. Mengapa tak meminta restu segera pada Tuhan?

Ibu Kanjeng Ratu Kidul kerap disebutkan juga sebagai mahluk siluman. Beliau, lantaran kemampuan ilmunya, keadaan karakter fisik dayanya beralih jadi seperti karakter fisik daya bangsa jin, tak akan sama juga dengan karakter fisik daya sukma manusia biasanya. Namun sosoknya tak beralih, masih tetap seperti aslinya, cantik seperti putri keraton. Jadi yang beralih cuma karakter daya dari sukmanya saja yang seperti daya bangsa jin, berbeda lagi dengan karakter daya sukma manusia biasanya, sedang sosoknya sendiri tak beralih